Rabu, 29 Mei 2013

Our Graduate Celebration

Pertama, kenapa aku bilang 'Our'disini bukan 'My' mungkin hihi, soalnya bukan aku sendirian yang lulus (?) iyalah 
Anak satu kelas bernama "XII-IPS-2" udah kaya saudara, walaupun cuma 2 tahun kita tinggak dikelas yang sama. Mungkin karena tugas-tugas sekolah yang bikin kita harus sering jalan bareng,  itu yang buat kita jadi akrab.
Waaahh dan sekarang kita mesti pisah menempuh masa depan (?) 
Pas tanggal 24 Mei 2013 kita semua lulus, dan itu rasanya bener-bener seneng, tapi yang bikin aku sedikit kecewa adalah aku ngga bisa ikut konfoi corat-coret baju bareng temen-temen. Aku disuruh jemput Mamah di stasiun /nasib/.
Tapi ngga papa walapun ngga bisa konfoi keliling bareng aku masih tetep bisa ngerayain graduate bareng anak-anak kelas 12 lainnya tanggal 27 Mei 2013.
Ada rasa seneng dan mungkin juga sedih, soalnya kita ngga bisa bareng lagi u,u
Tapi pas dapet map kelulusan rasanya seneng plus bangga.
Alasan kenapa bikin tulisan gaje yang kaya gini cuma biar bisa bener-bener inget masa-masa SMA yang mungkin ngga bakal terlupakan. 
 ini didepan kelas tercinta hihi
ngga ada yang liat ke kameraku T.T





Sabtu, 25 Mei 2013

[FF SHINee] Honesty part 4



Title : 그자리에 (Honesty)
Cast : Kim Jong Hyun
            Kang Jae Kyung
            And the other
Genre : Friendship, Love
Rating : T
Type : -
Author : @raniakim96

-Previous Part-
Jaekyung dan Minki dikejutkan oleh dua orang yang tiba-tiba merangsek masuk ke dalam lift yang mereka naiki berdua. Padahal pintu lift ini sudah hampir tertutup namun kedua orang itu tetap memaksa masuk.
“Chagi, kajja kita masuk saja, kalau tidak kita bisa terlambat.” Jaekyung dan Minki melotot mendengar suara yeoja ini. “Shin Jira?” Seru mereka hampir bersamaan. Yeoja yang dimaksud dengan segera menoleh.
“Kalian?” Jira pun tampak tak kalah kagetnya, namun di detik berusaha untuk terlihat santai. Dia juga mengeratkan pegangan pada namja yang ada disampingnya.
***
Part 4
            “Sedang apa kalian disini?” Tanya Jira terlebih dahulu. “Kami baru saja mencari buku.” Jawab Minki singkat. Kini suasana terasa canggung, belum lagi Jira masih merasa tak enak atas perbuatannya pada Jaekyung lusa.
Jira berdehem “Perkenalkan ini namjachinguku, namanya Onew.” Mereka bertigapun saling bersalaman. “Bisa kalian lihat sendiri kan? Onew oppa lebih tampan dari pada Jonghyun.” Jaekyung dan Minki saling memandang heran.
            “Ah iya, dia juga pintar. Di sekolahnya dia mendapat peringkat dua pararel, dan lagi suara Jonghyun tidak lebih baik dari pada Onew.” Onew menahan malu dengan apa yang dikatakan oleh yeojachingunya ini, yang sangat jelas terlihat bahwa dia sedang pamer. Onew juga berkali-kali mencubit pelan lengan Jira sebagai peringatan namun tetap dihiraukan.
“Dan satu hal lagi yang tak boleh terlupakan adalah Onew oppa lebih kaya diband....” Onew membungkan mulut Jira, tepat saat pintu lift terbuka dia menyeret yeoja itu dan sebelumnya telah mangangguk berpamitan pada Jaekyung serta Minki.
***
Tangan kecil Jaekyung memungut kartu kecil berwarna pink yang tergeletak diatas mejanya. Yeoja itu pun membaliknya, ternyata ini adalah sebuah kartu undangan, lalu dia melihat sekelilingnya, ternyata ada kartu undangan serupa disemua meja milik teman kelasnya yang masih kosong karena ini memang masih terlalu pagi.
“Apa Jira juga mengundangku ke acara ulang tahunnya? Ck..”
Satu persatu muridpun berdatangan seiring dengan meningginya sang mentari. Suasana sunyi yang sebelumnya terasa kinipun berubah menjadi gaduh tatkala mereka melihat kartu undangan dari Shin Jira dimeja masing-masing.
Tak terkecuali Jonghyun yang seakaan membaca dengan sangat teliti lampiran yang ada dalam undangan cantik itu.
***
“Ya!! Jaekyung-ah.” Seketika langkah Jaekyung menuju tempat parkir sekolahnya pun terhenti.
“eum.. Jonghyun? Wae?” Jonghyun, namja yang memanggilnya tadi hanya tersenyum lebar sambil berjalan mendekat.
“Antarkan aku pulang.” Seru Jonghyun seketika yang dibalas dengan tatapan tak mengerti oleh Jaekyung.
“Motorku sedang diservice, jadi tolonglah antarkan aku pulang untuk kali ini saja.” Kini namja itu merengek dihadapan Jaekyung.
“Mwo? Shireo.” Balas Jaekyung cepat tanpa perlu mempertimbangkan permintaan Jonghyun. “Kenapa kau tidak dijemput supirmu saja eoh?” Lanjutnya lantang.
“Aku tidak bisa, tadi pagi saja aku berangkat bersama Appa.” Jawab Jonghyun malas.
“Lalu kenapa kau tidak pulang dengan Appamu juga?” Jaekyung merasa masih enggan.
“Jaekyung-ah kau kenapa? Tolonglah hanya untuk kali ini saja, aku tidak mau jika harus menaiki bus. Jeball.”
“Mian Jonghyun-ssi tapi aku tidak ingin menganmbil ‘resiko’. Lagi pula ini masih dilingkungan sekolah, bagaimana kalau banyak siswa yang melihat atau bahkan mantan pacarmu Shin Jira juga melihatnya? Melihat kau dan aku berboncengan, bukankah sama saja kau menggali lubang kuburku sendiri?”  Ucap Jaekyung panjang lebar  yang hanya ditanggapi dengan anggukan malas oleh Jonghyun.
“Apa kau tidak memikirkan bagaimana posisiku?” Lanjut Jaekyung geram. Namun sepertinya Jonghyun memang tak memperdulikan perkataannya.
Namja itu langsung merebut kunci scooter milik Jaekyung yang dipegang lemah di tangan kirinya.  “Kajja naiklah! Atau kau mau pulang menggunakan bus?” Perintah Jonghyun yang seakan scooter ini adalah miliknya.
“Aiish yak!! Dasar kau!!” Dengan sangat terpaksa Jaekyung pun menaiki scooternya tersebut.
Dan seperti apa yang Jaekyung kira sebelumnya banyak tatapan tak mengenakan mengarah pada dua insan yang kini mulai menjauh dari sekolah, tak terkecuali Jira, gadis berambut panjang itu terus menatap geram ke arah Jaekyung dengan kedua tangan yang terkepal erat.

***
“Waaaa rasanya sangat aneh mengendarai motor seperti ini.” Ucap Jonghyun pada saat dalam perjalanan pulang.
“Diam kau! Tak usah banyak bicara.” Balas Jaekyung keras yang seakaan sudah sangat kesal dengan komentar-komentar Jonghyun terhadap scooternya sedari tadi.
“Kalau kau tidak suka, lebih baik kau turun.” Lanjutnya kemudian.
“Apa kau marah?” Jonghyun mencoba menggodanya, yang hanya dibalas dengan cibiran.
Entah kenapa Jaekyung merasa bahwa Jonghyun sangat pelan dalam melajukan scooter ini, Jaekyung bahkan tak pernah melaju dengan kecepatan serendah ini.
“Suasana disore hari seperti ini sangat menyenangkan yah? Aku sangat menyukainya.” Kata Jonghyun yang memang terlihat sangat menikmati matahari sore dikota Seoul ini, pantas saja dia sangat mengurangi laju scooter milik Jaekyung.
“Apakah ini rumahmu?” Tanya Jaekyung saat mereka berhenti di depan sebuah rumah yang terlihat elegan ini. “Bukan.” Jawab Jonghyun cepat.
“Lalu kenapa berhenti disini?” Ucap Jaekyung heran. “Ini rumah Appa dan Eommaku.” Seru Jonghyun santai yang diakhiri dengan tawanya yang membahana, Jaekyung hanya menatap tajam namja yang sedang terbahak dihadapannya ini.
“Jaekyung-ah kau lucu sekali ketika marah, aku kan hanya bercanda.” Ucap Jonghyun yang measih menahan tawanya. “Iiissh yasudah aku pulang dulu, kau masuk lah kerumah.” Kata Jaekyung yang tampak masih kesal dan segeran menaiki scooternya.
“Tunggu..” Jonghyun mencegahnya. “Apa kau juga diundang oleh Jira?” Tanyanya kemudian, yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Jaekyung.
“Kau akan datang ke pestanya?”
“Aku juga tidak tau, tapi kemungkinan besar aku akan datang, tidak enak, aku kan sudah diundang olehnya.” Jaekyung memiringkan kepalanya, dia melihat tampaknya Jonghyun masih akan menanyakan sesuatu.
“Maukah kau datang bersamaku?” Tawar Jonghyun pelan. “Aniyo, aku akan berangkat bersama Minki.” Seru Jaekyung cepat dan segera menyalakan mesin scooternya lalu melaju menjauh dari rumah Jonghyun.
Jonghyun tampaknya sangat kecewa dengan penolakkan Jaekyung tadi, sampai-sampai dia tidak ada inisiatif untuk memarahi Jaekyung saat dengan sengaja meninggalkan lawan bicaranya.
***
 “Minki, bisakah kau cepat sedikit? Bisa-bisa kita terlambat nanti.” Cerocos Jaekyung saat masih menunggu Minki yang masih berdandan dikamarnya.
“Tunggulah sebentar, aku masih harus menggunakan contact lensku.” Jawab Minki santai sambil terus mengahadap ke cermin, sementara Jaekyung sudah kusut karena kesal.
“Oke, ayo kita berangkat ke Jira Birthday Party.” Seru Minki bersemangat menggandeng sahabatnya menuju mobil Jaekyung yang terparkir didepan rumahnya.
“Minki-ya aku malu masuk kedalam.” Lirih Jaekyung saat mereka hampir masuk ke dalam rumah Jira ini.
“Kenapa harus malu? Kau terlihat cantik dengan memakai dress seperti ini, ayolah kita masuk.” Minki dengan segera menggandeng tangan Jaekyung erat memasuki ruangan pesta.
Diruangan ini sudah tampak ramai, banyak teman-teman sekolah Jaekyung yang sudah datang. Jaekyung dan Minki pun ikut bergabung dengan segerombolan anak yang tampak seru dengan obrolan mereka.
‘Apa kau sudah datang?’ Satu pesan terpampang dilayar ponsel milik Jaekyung, pesan dari Jonghyun.
‘Ne, aku sudah disini, acara puncak juga sebentar lagi akan dimulai. Apa kau tidak akan datang?’ Jaekyung mengetikkan kalimat tersebut sebagai balasan untuk Jonghyun.
Jonghyun pun dengan segera membuka pesannya, dengan ekspresi yang ragu tanpa membalas pesan terakhir dari Jaekyung. Dia pun tampak menimbang dia akan datang kesana atau tidak.
“Aaaah aku sangat malas.” Helanya, kemudian menjatuhkan diri dikasur.
***
Acara puncak pun telah selesai, kini para tamu hanya sedang menikmati jamuan yang ada. Namun Jonghyun tak tampak di mata Jaekyung, gadis itu melihat kesekelilingnya, mereka semua terlihat senang. Jaekyung terlonjak kaget ketika seseorang menabraknya, menumpahkan minuman berwarna merah terang ke dress biru laut miliknya.
“Ah, mianhe mianhe. Aku tak sengaja tadi tolong maafkan aku.” Ucap seorang yeoja dengan nada menyesal. Dia juga membantu Jaekyung untuk membersihkan syrup merah yang kini tercetak jelas di dress Jaekyung.
“Tidak apa, aku tidak apa sungguh.” Lirih Jaekyung pelan, namun tiba-tiba “Yak!! Apa yang kau lakukan Soora?” Keduanyapun segera menghadap gadis yang mengomel itu, ternyata dia adalah Jira.
“Mianhe eonni aku tidak sengaja.” Jawab yeoja yang bernama Soora. “Lain kali kau tidak boleh ceroboh seperti ini!” Perintah Jira tegas.
“Maafkan adik sepupuku ini Jaekyung-ah.” Dia beralih pada ‘tamu’nya. “Kau bisa ganti baju menggunakan pakaianku kalau kau mau.” Tawarnya.
“Ah baiklah, aku juga merasa tidak nyaman menggunakan ini.” Balas Jaekyung kalem. “Soora, antarkan dia!.” Seru Jira, yang ditanggapi dengan anggukan mantap.
***
“Soora-ssi apakah tidak ada pakaian lain selain ini?” Sela Jaekyung saat telah memakai pakaian yang Jira tawarkan. Dress putih di atas lutut dengan kain putih yang sangat transparan ini sangat tidak nyaman untuknya.
“Mianhe eonni, tapi hanya ini yang pas untukmu.” Ujar Soora lalu dengan cepat meninggalkan Jaekyung yang masih sibuk dengan dressnya.
Jaekyung sudah tak peduli lagi, asalkan dia tak tersorot kilatan lampu, ini pasti akan baik-baik saja. Gadis itu berjalan pelan menuju ruang pesta lagi.
Ketika dia ingin bergabung bersama dengan Minki dan temannya dipinggir kolam, dengan tiba-tiba ada yang mendorongnya dari samping.  Alhasil dia langsung tercebur kedalam kolam renang.
Jaekyung bukan tidak bisa berenang, namun dia terlalu malu jika harus menuju ketepian dan keluar dari kolam ini. Dia melihat ke arah tubuhnya, ini sangat tidak mungkin untuknya, dengan menggunakan dress putih yang transparan. Banyak tatapan yang mengarah kepadanya dan hampir diantara mereka semua telah tertawa terbahak-bahak.
Minki yang melihatnya pun tampak tak tega, dia tidak bisa berenang untuk menyelamatkannya. Dia juga tak punya kain atau mungkin handuk berwarna gelap untuk menutupi tubuh Jaekyung yang dia tahu seperti apa keadaannya saat ini.
Jonghyun yang memutuskan untuk datang keacara ini dengan tergesa berlari memasuki tempat pesta, dia terlihat heran melihat semua orang berkerumun dipinggir kolam renang. Dia segera mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi.
Betapa kagetnya dia saat mengetahui Jaekyung yang kini berada di tengah kolam dengan tangan yang menutupi sebagian dadanya serta mata yang memerah hampir menangis.
Namja itu pun menatap kearah Jira yang sedang tertawa licik, Jonghyun tau ini semua perbuatan yeoja itu. Tanpa pikir panjang Jonghyun langsung menceburkan diri ke kolam dengan diiringi oleh gumamman kaget oleh seluruh tamu, tak terkecuali Jira sampai-sampai dia menutupi mulutnya yang terbuka.
Jonghyun membuka jas hitamnya dan memakaikannya ke bahu Jaekyung lalu berjalan pelan keluar kolam. Jonghyun merengkuh Jaekyung kerangkulannya dengan erat, membawa Jaekyung keluar dari tempat ini tanpa menghiraukan seruan mengejek yang ditujukan padanya.


-To be continue-

Jumat, 24 Mei 2013

[FF SHINee] Honesty Part 3



Title : 그자리에 (Honesty)
Cast : Kim Jong Hyun
            Kang Jae Kyung
            And the other
Genre : Friendship, Love
Rating : T
Type : -
Author : @raniakim96



-Previous Part-
‘Temui aku di kedai ice cream!’  Satu kalimat yang terpampang  jelas di ponsel Jaekyung. “Kedai ice cream?” Jaekyung bingung dengan tempat yang dikatakan oleh Jonghyun, kedai ice cream ada ratusan di Seoul. “Apa yang dia maksud, kedai ice cream saat pertama kita mengobrol saat itu?” Ucap Jaekyung menebak.
            “Pakaian apa yang harus aku kenakan?” Yeoja itu melihat setiap baju yang tertata rapi di dalam lemarinya. “Aku harus memakai baju sesederhana mungkin.” Serunya mulai panik, baju yang dia inginkan tidak dia temukan.
            Dengan mengenakan kaos lucu berwarna abu-abu, rok mini biru dengan motif bunga-bunga kecil serta flat shoes Jaekyung berjalan menuruni tangga rumahnya. “Mau kemana kau?” Dia disambut oleh teriakan Jaehyung namdongsaengnya dari ruang santai. “Tidak ada urusannya denganmu.” Balas Jaekyung malas. Mata Jaehyung terus mengekor mengikuti langkah perginya noonanya itu.
***
Part 3
            Jaekyung segera turun dari scooternya, dia melihat sekeliling. “Motor Jonghyun ada disini,  jadi benar ini tempatnya.” Seru Jaekyung mantap dan langsung berlari kecil masuk kedalam kedai itu.
            Jaekyung berjalan pelan menuju tempat Jonghyun duduk saat ini, dia melihat ada dua cup ice cream yang telah kosong dimejanya. “Kenapa kau lama sekali? Bahkan aku sudah menghabiskan ice cream yang tadinya mau kuberikan padamu.” Jonghyun sedikit berteriak saat Jaekyung baru saja meletakan dirinya dikursi.
            “Mianhe, tadi aku harus membantu Eomma jadi aku sedikit terlambat.” Jaekyung berdusta, padahal waktunya tersisa hanya untuk memilih pakaian tadi.  “Sudahlah, kali ini aku memaafkanmu. Tapi lain kali kau tidak boleh terlambat, aku tidak suka jika harus menunggu. Arraso?” Ucap Jonghyun memperingatkan. “Ne..” Jawab gadis itu lemah.
            “Aku ingin bertanya padamu, tapi sebelum itu kita ke taman di pusat kota yah? Aku sudah bosan disini.”  Jonghyun segera menggandeng tangan Jaekyung keluar dari kedai ini.
            “Jonghyun-ahh aku bawa scooterku sendiri, aku tidak bisa naik motormu.” Ucap Jaekyung heran saat Jonghyun membawanya ke tempat motornya diparkirkan.
            “Aku tau kau membawa scootermu, sepulang dari taman nanti kita ambil scootermu disini, sekarang kau naik! Kajja.” Jawab Jonghyun enteng seraya menghidupkan mesin motornya.
            “Apa yang ingin kau tanyakan?” Tanya Jaekyung cepat saat mereka baru saja duduk di salah satu kursi panjang ditaman. “Kenapa kau terburu-buru sekali? Apa kau ada acara heoh?”
            “Tidak juga...” Balas Jaekyung kikuk, entah kenapa dia jadi merasa tidak enak pada Jonghyun. “Jaekyung-ahh belikan aku ice cream! Anggap saja ini bayaran untuk ice yang ingin kuberikan padamu tadi.” Jaekyung bingung dengan sikap Jonghyun yang berubah menjadi seperti anak kecil saat ini. Tanpa berkata sepatah katapun Jaekyung langsung berlari mencari penjual ice cream ditaman.
            “Waahh, bukankah sangat enak menikmati ice cream di musim panas seperti ini? Iyakan Jaekyung?” Jonghyun terlihat sangat lahap menjilati ice cream coklatnya, sementara Jaekyung sudah dengan sabar menunggu apa yang sebenarnya ingin ditanyakan namja ini.
            “Jaekyung-ahh, Ahra sudah tidak pernah menghubungiku lagi.”  Ucap Jonghyun tiba-tiba dengan nada suara yang sedih. “Memang Ahra itu siapa?” Tanya Jaekyung bingung, karena baru pertama kali mendengar nama tersebut.
            “Aiihh iya aku lupa, Ahra itu yeojachinguku.” Deg, jantung Jaekyung seakan ingin keluar. Beruntung Jaekyung tidak mempercayai semua ucapan Minki waktu itu. “Apa kau pernah menanyakan alasannya?” Tanya Jaekyung hati-hati.
            “Dia bilang sedang tidak ingin diganggu, dan kau tau apa yang paling membuatku sedih?...” Jonghyun menggantungkan kalimatnya. “Ahra berkata padaku kalau dia masih sayang dengan Minho, mantan kekasihnya dulu.” Seketika Jaekyung melebarkan matanya, Jonghyun, namja itu kini meneteskan air matanya.  
            “Sudah berapa lama dia tidak menghubungimu?” Jaekyung sangat bingung dengan keadaan ini. “Sudah lebih dari satu minggu, kalaupun aku kerumahnya dia tidak mau keluar untuk sekedar menyapaku.” Suara Jonghyun terdengar serak. “Apa yang harus aku lakukan untukmu?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Jaekyung, dia memandang Jonghyun dengan iba, tak menyangka jika namja berotot ini akan menangis karena wanita.
            “Peluklah aku Jaekyung-ahh, jebal...” Mendadak tubuh Jaekyung membeku, apa yang didengarnya tidak salah? “T..ta..pi..” Belum selesai Jaekyung menyelesaikan apa yang ingin diucapkan, Jonghyun sudah merengkuhnya kedalam pelukannya. “Jika kau tidak bisa memelukku, aku yang memelukmu.” Jonghyun makin mengeratkan pelukannya. Kini mereka berdua sama-sama terdiam dalam keadaan berpelukan di bangku taman.
            “Tolong bantu aku, sampai masalah ini benar-benar selesai.” Jonghyun berbisik ditengah isak tangisnya, Jaekyungpun mengangguk, walaupun gadis itu tidak tau apa yang bisa ia bantu.
***
            Setelah puas menangis dan menceritakan semua masalahnya dalam pelukan Jaekyung, akhirnya Jonghyun bisa tenang. Dapat dilihat matanya yang sembab, dengan kaos Jaekyung yang basah dibagian bahu. “Sshhh.. berapa lama aku menangis?” Jonghyun bergumam pelan.
“Kau tidak kedinginan?” Tanya Jonghyun yang baru menyadari kalau Jaekyung hanya memakai kaos tipis, sementara ini sudah malam, angin musim panas juga bertiup kencang.
            “Gwenchana, aku baik-baik saja, apakah hatimu sudah membaik saat ini?” Kini Jaekyung balik bertanya, tak lupa dia memasang senyum dihadapan Jonghyun.
            Jonghyun melepas jaket merah parasutnya dan memakaikannya di bahu Jaekyung. Jaekyung ingin mengelak namun tak dapat dipungkiri dia memang kedinginan. “Aku sudah kuat berkat kau.” Jonghyun melirik ke arah Jaekyung yang menundukkan wajahnya tersipu malu.
            “Kajja kita pulang..aku akan mengantarkanmu sampai depan rumah.” Jaekyung segera menghentikan langkahnya. “Tidak perlu.. ka.. kau cukup mengantarku sampai kedai ice cream saja, aku akan pulang sendiri.”
            “Tak usah mengelak, aku kan mengikutimu dari belakang, aku takut sesuatu terjadi padamu. Kau ini yeoja, tidak baik bepergian dimalam hari seorang diri.” Jonghyun tetap menarik Jaekyung menuju motornya. Dalam perjalanan menuju kedai ice cream untuk mengambil scooternya, Jaekyung terus memikirkan cara agar Jonghyun tidak mengantarnya sampai ke rumah.
            “Aku mohon, kau lebih baik pulang. Basuh mukamu yang sangat kusut itu, aku akan baik-baik saja. Lagipula jarak dari sini menuju rumahku itu tidak terlalu jauh.” Sambil memakai helm dikepalanya Jaekyung terus mencari segala alasan. Jaekyung bersiap menyalakan scooternya.
            “Benar kau tidak apa?” Tanya Jonghyun masih ragu. “Ne, aku yakin aku tidak apa. Sekarang kau pulanglah dulu.” Jaekyung tampak bersemangat.
            “Baiklah aku akan pulang, hati-hati ya! Gomawo untuk hari ini.” Jonghyun segera menancap gas dan berlalu dari hadapan Jaekyung.
            “Syukurlah dia menuruti perintahku.” Jaekyung mengeratkan jaket Jonghyun yang dikenakannya, menyalakan gas scooternya dan pulang menuju kerumah.
            Namun tanpa diketahui oleh Jaekyung, Jonghyun yang berhenti di pertigaan jalan tadi, membuntuti yeoja itu dari belakang. Tampaknya dia masih ragu untuk membiarkan Jaekyung pulang sendiri ke rumahnya.
***
             “YA!!  SIAPA YANG MENYIRAMKU??” Jaekyung tersentak kaget saat ada yang menyiram dirinya yang sedang tertidur dikelas pada pagi hari seperti biasa.
            “Jaekyung-ahh apa kau tidak pernah tidur dirumah? Sampai-sampai kau tidur di kelas setiap hari.” Jira dengan ember kecil ditangannya membalas perkataan Jaekyung dengan pedas.
            “Lalu apa urusannya denganmu?” Seru Jaekyung seraya berdiri dari tempat duduknya. Jira menghela nafas kesal, “Apa kau tidak lihat sudah jam berapa ini? Bagamana kalau sonsaenim datang dan melihat ada murid kelas ini tertidur? Bukankah itu akan membut seluruh kelas malu karenamu?”Jira berkata panjang lebar dengan gaya angkuhnya. 
            Jaekyung juga dapat melihat ada banyak murid kelasnya yang berkerumun melihatnya. Kemarahan Jaekyung sudah hampir mencapai puncak kepalanya saat Jira terus-terusan menghinanya didepan semua murid kelas ini.
            “Bayangkan saja, setiap hari dia tertidur dikelas. Hey apa orang tuamu tidak mampu membeli tempat tidur?” Kini Jira dengan acuhnya tertawa terbahak-bahak, begitu juga dengan siswa lain, adapula yang meneriaki Jaekyung dengan nada mengejek.
            Jaekyung hampir saja menampar wajah Jira kalau saja Jonghyun tak mencegahnya. Tanpa berkata satu patah katapun Jonghyun menarik Jaekyung menuju gudang belakang sekolah.
            “Ya!! Kim Jonghyun kenapa kau tak membiarkankau menampar wanita itu hah? Apa kau takut aku akan melukai mantan kekasihmu itu? Dia menghina orang tuaku, dia juga mempermalukan aku dihadapan semua siswa dikelas. Dia memperlakukan aku seperti ini karena dia mengira aku dan kau ber....”  Isak tangis serta teriakan Jaekyung yang panjang lebar itu terhenti ketika Jonghyun dengan tiba-tiba mencium bibirnya.
            Bagaikan tersambar petir, seluruh tubuh Jaekyung kaku. Dia merasa bahwa semua syaraf yang ada ditubuhnya berhenti berfungsi. Yeoja itu belum mampu berbicara apapun setelah Jonghyun menghentikan ciuman singkat mereka, bahkan mulut Jaekyung masih belum menutup.
            “Kau tidak mati berdiri kan?” Jonghyun mencoba untuk mencairkan suasana, dia mencubit pelan pipi Jaekyung.
            “Kenapa kau melakukan ini padaku?” Jaekyung balik bertanya, dia bingung kenapa Jonghyun menciumnya, padahal tidak ada hubungan apapun selain teman diantara mereka.
            Jonghyun hanya berdehem tak bisa menjawab pertanyaan Jaekyung. “Kau terlihat lebih jelek saat menangis.” Diapun lebih memilih untuk mengalihkan permbicaraan, tak mau dipermainkan Jaekyung segera menepis tangan Jonghyun yang ingin menghapus airmatanya.
            “Aku hanya ingin menenangkanmu, aku tau ini semua juga salahku. Jira melakukan ini padamu karena kau dekat denganku, dia memang tidak pernah membiarkan yeoja yang dekat denganku hidup dengan tenang. Aku merasa bersalah padamu Jaekyung.” Jonghyun mengutarakan semua alasannya, dia terduduk lemas di lantai gudang yang kotor ini.
            “Jangan menyalahkan dirimu Jonghyun-ahh.” Jaekyung ikut duduk disampingnya. Dia merangkul punggung Jonghyun yang lebar itu. “Aku tidak kesal dengan semua perkataan dan hinaan dari Jira, aku sangat kesal saat Jira menghina orang tuaku yang tak mampu membeli tempat tidur.” Jaekyung menghela nafas berat. Dia memandang Jonghyun yang masih tertunduk dengan tersenyum.
            “Aku tau, aku hanyalah yeoja dari kalangan bawah, orang tuaku han...” Jaekyung menoleh saat Jonghyun memegang tangannya yang bebas. “Selama ini kau berbohong pada kami.” Jaekyung terkejut akan pernyataan Jonghyun tadi.
            “Orang kalangan bawah, namun mempunyai rumah mewah yang sangat besar serta halaman yang luas,eoh?”
            “Kau??” Jaekyung memekik tak percaya. Sementara namja disebelahnya sedang tertawa lebar.
            “Kau kira aku akan rela membiarkan kau pulang seorang diri kerumah?” Jaekyung tertangkap basah. “Tidak usah mengelak kalau kau adalah pembantu dan itu adalah rumah majikanmu. Tidak bisakah kau jujur padaku Jaekyung?” Ucap Jonghyun cepat saat melihat yeoja itu akan memberikan beribu alasannya.
            “Mianhe...” Hanya satu kalimat yang keluar dari bibir mungil Jaekyung. “Aigooo, kenapa aku lupa dari tadi. Lihatlah bajumu itu, basah-basah kau tidak menggantinya sedari tadi. Apa kau tidak kedinginan?” Entah kenapa Jonghyun jadi cerewet seperti ini, bahkan melebihi seorang eomma yang sedang memarahi anaknya.
            Tanpa Jonghyun sadari tiba-tiba Jaekyung memeluknya, memeluknya dengan sangat erat. “Pabo! Aku kedinginan dari tadi, sebagai imbalan, aku ingin kau memelukku seperti ini.” Tanpa banyak bicara lagi, Jonghyunpun makin mengeratkan pelukannya pada Jaekyung.
***
           
            “Jheongmalyo? Jadi Jonghyun dan Ahra sudah putus?” Minki terpekik saat mendengar berita tersebut dari mulut Jaekyung.
            “Jonghyun bilang kalau Ahra bukan yeoja yang baik, dan ternyata Ahra juga masih menjalin hubungan dengan Minho.” Jaekyung menambahkan.
            “Oh iya kau bilang kau dan Jonghyun pernah..” Minki memberi isyarat dengan menyentuh bibirnya. “Jangan bahas itu lagi!” Seru Jaekyung kesal.
            “Tapi apa itu benar terjadi?” Minki masih ragu dengan ucapan Jaekyung waktu itu, dia tidak percaya. Pasalnya Jaekyung dan Jonghyun tidak mempunyai hubungan apapun.
            “Kau tau? Awalnya aku juga sangat terkejut, aku mengira kalau itu hanya mimpi. Jantungku hampir melompat dari tempatnya.” Jaekyung menjawab dengan nada dan ekspresi yang terlalu didramatisir.
            “Aiish kau ini. Tapi kau benar-benar tidak ada hubungan apapun kan dengan Jonghyun?” Satu jitakan mengarah ke kepala Minki. “Kau kira aku menyembunyikan semuanya dari mu? Semua yang aku alami selama ini aku ceritakan padamu Minki, kenapa kau masih tak percaya.” Ujar Jaekyung heran.
            “Ne ne arraseo, hanya saja kalian berdua tampak begitu akrab.” Ucap Minki lirih.
            “Nan mollayo, kau tau? Aku juga tidak ragu untuk memeluknya.” Minki yang sedang meminum jus pun  tersedak. “Gwenchana?” Tanya Jaekyung khawatir sambil memeberikan beberapa lembar tisu.
            “Kau memeluknya?” Minki malah balik bertanya. “Begitulah.” Jawab Jaekyung sekenanya.
            “Jinja? Ommo sepertinya kesempatanmu makin besar.” Celetuk Minki tiba-tiba. “Mwo? Apa maksudmu?” Balas Jaekyung bingung.
            “Kau ini, kesempatan untukmu mendapatkan Jonghyun!!” Seru Minki dengan penuh penakanan. Jaekyung yang ada didepannya pun langsung membungkam mulut yeoja itu.
            “Ya!! Bagaimana kalau ada yang dengar?” Kata Jaekyung khawatir sambil memperhatikan sekelilingnya. Jaekyung takut jika tanpa sepengetahuannya ada siswa dari sekolahnya yang juga berada di foodcourt salah satu mall ini.
            “Tidak mungkin ada yang mengenalmu disini.” Jawab Minki santai, diapun kembali memakan hotdognya. “Kita kan tidak tau, mungkin saja ada anak kelas yang kesini.”
            “Minki-ya novel yang belum kau temukan, apa kau akan mencarinya sekarang?” Jaekyung memperhatikan Minki yang tengah melihat-lihat beberapa novel yang dibelinya tadi.
            “Aku akan mencarinya lain waktu, Jaekyung-ahh hari ini uangku telah habis.” Minki terkekeh. “Kajja! Sebaiknya kita pulang sekarang, gomapta kau sudah menemaniku mencari novel.”
“Ne.” Jawab Jaekyung singkat dan segera beranjak dari duduknya.
Jaekyung dan Minki dikejutkan oleh dua orang yang tiba-tiba merangsek masuk ke dalam lift yang mereka naiki berdua. Padahal pintu lift ini sudah hampir tertutup namun kedua orang itu tetap memaksa masuk.
“Chagi, kajja kita masuk saja, kalau tidak kita bisa terlambat.” Jaekyung dan Minki melotot mendengar suara yeoja ini. “Shin Jira?” Seru mereka hampir bersamaan. Yeoja yang dimaksud dengan segera menoleh.
“Kalian?” Jira pun tampak tak kalah kagetnya, namun di detik berusaha untuk terlihat santai. Dia juga mengeratkan pegangan pada namja yang ada disampingnya.


-To be continue-